7 Pilar Budo – Part 1 : Gi & Meiyo

1. Gi, The Truth: Kebenaran dan Kebaikan

Kebenaran adalah titik kulminasi pencarian manusia yang tertinggi dalam hidupnya. Karena nilai kebenaran yang tertinggi hanya ada satu dan satu-satunya, yaitu Tuhan. Manusia dalam perjalanan hidupnya akan hampa dan tidak berarti apapun jika ia tidak menyadari bahwa ia merupakan bagian yang sangat kecil dari sekian banyak ciptaan Tuhan yang tidak terhitung jumlahnya.

Manusia dengan egonya terkadang menjadikan dirinya seakan-akan poros dunia dan alam semesta. Pada kenyataannya, manusia hanyalah sebutir debu ditengah gurun pasir. Datang dan perginya tidak berarti apa-apa kecuali dia telah menemukan makna sejati kehidupannya di dunia.

Dalam budo, nilai spiritual merupakan esensi ajaran serta tujuan akhir dari perjalanan seorang budoka. Sehingga orang-orang yang mempelajari budo, namun ia berpaling dari agama maka pada dasarnya ia tidak mengerti apa yang ia pelajari. Hal ini ditegaskan oleh O-Sensei ‘’ tidak ada di dunia ini yang tidak dapat mengajari kita. Untuk sebagian orang contohnya, akan menjauhi atau tidak mau mengerti dari ajaran agama. Ini merupakan bukti bahwa mereka tidak dapat mengerti arti mendalam dari pengajaran ini.

Ajaran agama berisi tentang sesuatu yang mendalam dan kebijaksanaan. Anda harus mengerti tentang hal ini dan menerapkan pengertian anda melalui budo’’. Maka pahamilah budo sebagai salah satu jalan untuk menerapkan ajaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

2. Meiyo, Respect and Honor: Sikap Hormat dan Kehormatan

Sikap menghormati merupakan sikap yang lekat dengan karakter masyarakat Jepang. Hal ini dapat dilihat dari budaya rei, yaitu membungkukkan badan sebagai tanda menghormati seseorang. Dalam budo sikap seperti ini merupakan gambaran nilai penghormatan bagi para samurai, dengan kata lain seorang samurai hanya dapat dikatakan memiliki sebuah kehormatan dalam dirinya bila ia tahu bagaimana cara menghormati orang lain.

Dalam falsafah moral ini sangat penting untuk mempraktekkan cara bersikap dengan baik dan benar khususnya kepada orang yang statusnya jauh diatas kita seperti orangtua kita, guru, atasan atau tuan pada masa dahulu.
Dikatakan bahwa bagi budoka, menyayangi orang tua adalah hal yang sangat fundamental. Jika seorang tidak lagi memperdulikan orang tuanya, maka ia bukanlah orang yang baik, tidak perduli apakah ia luar biasa pandai, tampan atau bertutur kata dengan bagus.

Maksudnya adalah untuk paham bushido, kita harus menjalankannya dari akar hingga ranting. Jika tidak dapat memahami dari akar hingga rantingnya maka kita tidak akan tahu apa kewajiban kita. Seseorang yang tidak tahu kewajibannya tentu sangat tidak layak untuk disebut samurai. Mengetahui akar hingga ranting berarti memahami sesadar-sadarnya bahwa orang tua itu pada dasarnya adalah akar dari tubuh kita dan batang tubuh kita adalah pada dasarnya cabang dan ranting dari tulang dan daging dari orang tua kita.

Adalah karena hasrat untuk membentuk diri kita yakni ranting maka muncul keadaan di mana kita mengabaikan orang tua yakni akarnya. Keadaan tidak baik seperti itu muncul karena kegagalan memahami filosofi akar dan ranting.

Terhadap guru kita juga harus menghormati mereka. Guru dalam bahasa Jepang disebut sensei. Artinya orang yang terlahir lebih dulu dan lebih lanjut memiliki pemahaman sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan tentang kehidupan lebih mendalam dari yang kita miliki atau orang yang kita jadikan tempat belajar dan bertanya, sekalipun usianya jauh lebih muda dari kita.

Dalam budo, guru diibaratkan sebagai orangtua kedua setelah orangtua kita. Hal ini disebabkan karena mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan setelah orang tua kita. Mereka turut mendidik dan membantu murid agar dapat menjalani hidup dengan baik.

Seorang sensei dalam budo merupakan jabatan spiritual, dimana pertanggung jawaban moral saja tidaklah cukup. Seorang sensei harus bertanggung jawab terhadap murid-muridnya agar menjadi manusia yang lebih baik secara fisik, mental, moral dan akhirnya spiritual. Hal ini tidak kita temukan pada pendidikan modern dimana guru hanya merupakan jabatan fungsional dalam suatu sistem pendidikan.

Seseorang yang mempelajari beladiri harus memahami hal ini, sehingga tidak seorangpun dari budoka yang dapat mengatakan kepada orang lain ‘’dia itu bekas guru saya’’ sebagaimana ia tidak dapat mengatakan ‘’itu bekas orang tua saya’’ sekalipun ia sendiri telah menjadi orangtua. Orangtua akan tetap menjadi orangtua kita karena kasih sayang mereka akan kita bawa hingga akhir hayat. Seperti juga guru, mereka akan tetap menjadi guru kita karena ilmu yang telah diberikan akan kita bawa juga hingga akhir hayat.

Imanul Hakim, DAN 6
Ketua Dewan Guru
Aiki Kenkyukai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shared on wplocker.com