Aiki no Kokoro (Jiwa dari Aiki)

(Sumber: Inside Aiki Edisi XVIII October 2007 & XIX November 2007)

Langkah pertama untuk mempelajari Aikido adalah untuk memahami jiwanya (spirit/kokoro), sedangkan langkah pertama untuk mempelajari jiwa Aiki (aiki no kokoro) adalah memulainya dengan memahami diri kita sendiri. Artinya anda mempelajari tentang hati, pikiran dan tubuh kita sebagai satu kesatuan.

Menyatukan jiwa dan tubuh bukanlah hal yang mudah, salah satu jalan termudah adalah denga memusatkan pikiran dan energi kita pada “seika tanden” (ichi no itten) atau biasa disebut “hara”. Orang timur yakin bahwa, “hara” atau “tanden” yang terletak kira-kira 3 cm dibawah pusar, sebagai pusat dan poros energi kehidupan dalam diri manusia. Orang cina biasa menyebut titik atau tempat ini sebagai “lautan ki” atau “sea of chi”

Dengan memusatkan fikiran dan energi kita pada tanden, maka secara otomatis kita akan merasa lebih relaks dan semua gerakan kita akan lebih stabil dan terkontrol. Kondisi ini adalah kondisi mutlak yang kita perlukan untuk melakukan teknik-teknik aikido. Tetapi memelihara konsentrasi pada tanden saja tidaklah banyak berarti, jika kita tidak sertai dengan memelihara hati agar selalu dalam nilai kebaikan dan ketulusan. Sifat kebencian, permusuhan, kemarahan, kesombongan atau sifat negatif lainnya tidak dapat bersemayam didasar setiap teknik aikido.

Jika kita melakukan teknik aikido didasari oleh sikap hati yang buruk (negative manner of Ki), maka tubuh kita akan bergerak mengikuti hawa nafsu (desire) dan ego (selfishness). Setelah itu kita akan segera kehilangan ketenangan hati, tidak lagi dapat berpikir jernih, tubuh akan menjadi keras dan kaku. Dengan demikian kita telah kehilangan kontrol terhadap diri sendiri dan orang yang kita hadapi. Kita telah kehilangan “aiki no kokoro”.

Oleh karena itu menjaga hati dan pikiran dalam keadaan positif merupakan hal yang sangat penting dalam berlatih aikido. Dalam latihan kita harus memliki ketulusan hati yang sejati disebut “makoto” atau “true heart” dan juga sikap rendah hati terhadap partner latihan kita. Kesombongan hanya akan membuahkan kebodohan pada diri sendiri. Sedangkan sikap rendah hati akan melahirkan pohon pengetahuan dan akan terus berbuah selama kita memeliharanya. Jiwa Ini disebut “shoshin” atau “beginner spirit”.

Dengan melakukan teknik yang terfokus pada tanden, serta menjaga ketulusan hati pada setiap gerakan yang kita lakukan, akan menjadikan jiwa dan tubuh berada dalam keadaan satu kesatuan yang bergerak secara harmonis dan akan memancarkan energi kehidupan yang sangat kuat, dimana energi ini disebut “KI”. Melalui keadaan ini kita dapat melakukan penetrasi pada orang yang kita hadapi tanpa sedikitpun konflik. Dengan demikian kita telah memasuki langkah kedua dalam Aiki yaitu keharmonisan diri dengan orang lain.

Sebagaimana jiwa dan tubuh kita menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, demikian pula inti keharmonisan dengan orang lain, yaitu untuk menjadi satu kesatuan dengannya. Mengharmoniskan orang lain bukan berarti “mengalah untuk menang”, bukan pula berkompromi, melainkan dengan meleburkan “ki” kita dengan “ki” orang lain dalam suatu keharmonisan secara instan. Ini merupakan konsep spiritual sekaligus fisikal yang disebut “awase” atau “ki no awase” (sinkronisasi ki).

Guna memahami konsep “ki no awase”, kita terlebih dahulu harus memahami apa yang disebut “tai atari” (honest body contact). Kuncinya adalah memelihara ketulusan hati dan kejernihan pikiran pada setiap saat, khususnya pada saat menghadapi orang lain. Hal inl tidak mudah, tetapi kita harus ingat bahwa O’Sensei pernah berkata “tidak ada musuh dalam aikido saya”. Ini berarti jangan sampai ada musuh di dalam hati dan pikiran kita. Apabila lawan datang menghampiri kita kemudian kita melihatnya sebagai musuh, maka hati kita akan dipenuhi perasaan takut, benci, marah atau setidaknya perasaan tidak suka, sehingga “tai atari” tidak tercapai.

Sebaliknya bila anda menyambut agresi lawan dengan hati dan pikiran yang terbuka dan tulus, tidak menolaknya serta melihatnya sebagai suatu manfaat maka dengan mudah kita akan melebur dengan lawan kita serta menjadikan konflik sebagai jalan menuju keharmonisan. Hal ini yang disebut sebagai “ki no awase”. Sekali lagi kita harus ingat bahwa tidak ada musuh dalam aikido sehingga jika anda merasa ada musuh, maka sadarilah bahwa satu satunya musuh adalah diri sendiri.

Menyatu dengan lawan dapat digambarkan seperti dua sisi mata uang logam, meskipun berbeda dan bertolak belakang namun tidak mungkin ada satu sisi tanpa sisi lainnya dan tidak dapat dipisahkan. Setelah kita melebur dengan ki lawan, selanjutnya anda memelihara hubungan (koneksitas) yang harmonis dengannya setiap saat melalui sensitifitas, anda dapat mengikat “ki” lawan anda dalam gerakan yang anda lakukan, seakan menjadi dua kutub magnet yang saling melekat. Bila “ki” telah menjadi milik anda, maka anda dapat menggerakkan tubuh lawan seperti menggerakkan tubuh anda sendiri.

Pada kondisi seperti ini, anda tidak merasakan lagi kekuatan atau berat tubuh lawan anda. Kedua hal tersebut seperti menghilang begitu saja, pada saat anda memulai kontak pertama dengan lawan. Hal ini yang disebut dengan “ki no musubi”.

Ki musubi akan melahirkan kemampuan untuk mengalirkan “ki” lawan dengan gerakan selaras, yang disebut “ki no nagare”. Dapat diumpamakan sebagai aliran sungai, alur sungai tidak pernah memaksa aliran air untuk melewatinya, ia hanya menyediakan tempat termudah untuk dilalui oleh aliran air tersebut.

Begitu pula air sungai tidak kuasa untuk keluar dari alur (tanah) yang telah terbentuk, sekalipun mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk menyapu bersih apa saja yang dilaluinya. Air sungai hanya dapat patuh mengikuti apa yang telah disediakan alam untuknya. Kekuatan sebesar apapun tidak akan mampu menentang hukum alam (the way of nature) yang telah Tuhan ciptakan.

O’Sensei pernah berkata,”siapapun yang memiliki hasrat menyerangku, akan kalah sebelum ia melakukan gerakan pertama. Karena sesungguhnya ia bukanlah menyerangku, tetapi menentang kekuatan keharmonisan alam semesta (universe)”. Seorang aikidoka harus mempunyai hati yang terbuka bebas dan selalu bersikap rendah hati, sehingga “ki” nya dapat menyatu dengan “ki” alam semesta yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Semua hal dan mahluk, baik spiritual maupun material, diseluruh alam semesta ini, memiliki satu “ki” yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Satu. Mereka merupakan satu kesatuan yang harmonis. Lihatlah alam yang ada di sekeliling kita yang begitu selaras dan indah.

Perhatikan pula planet-planet yang berputar mengelilingi tata surya, serta milyaran bintang di galaksi. Mereka tidak pernah berbenturan satu sama lain. Mereka berotasi dan berevolusi dengan harmonis, sehingga membentuk energi yang sangat besar di alam semesta. Itu semua disebabkan oleh karena mereka menyerahkan diri mereka secara mutlak dan mematuhi hukum serta kehendak Sang Pencipta.

Penyerahan diri secara mutlak dalam situasi apapun terhadap Sang Sumber Kehidupan akan melahirkan energi kreatif yang tidak terbatas secara material dan spiritual. O’Sensei menyebutnya sebagai “takemusubi aiki” yang merupakan pencapaian nilai spiritual tertinggi di dalam aikido.

Bahkan ketika menghadapi suatu serangan sekalipun, hati kita tidak terkait atau terikat dengan si penyerang, tetapi terikat erat dengan “tali langit” yang menghubungkan kita pada Sang Pencipta. Tubuh material dan spiritual akan diliputi oleh energi “aiki” yang terpancar keseluruh arah dan meyatu dengan energi alam semesta.

Siapa saja yang berusaha menyerang akan lebur secara harmonis di dalamnya tanpa daya. Tubuh dan hati bergerak berdasarkan tuntunan langit, sehingga apapun yang anda lakukan akan menjadi teknik yang tak terbayangkan sebelumnya (kami waza). Ini adalah bentuk tanpa bentuk, teknik tanpa teknik dan anda tidak akan memahaminya sampai anda mengalaminya.

Jalan aiki adalah sebuah jalan keharmonisan yang berbasiskan pada cinta dan kasih sayang secara universal. Juga jalan untuk melingkupi semua mahluk ciptaan dan menjaganya dari kehancuran. Hal ini disebut “ban yu ai go”. Tambahan lagi, kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri dan bukan atas diri orang lain (masakatsu agatsu).

Semua hal diatas bukanlah teori atau kumpulan kata-kata Indah belaka, tetapi sesuatu yang benar-benar nyata. Anda harus menempatkannya di hati yang terdalam dan mempraktekkannya melalui latihan, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan.

(Penulis: Imanul Hakim Sensei, Dan VI, Aiki Kenkyukai-Cho)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shared on wplocker.com