Ukemi

Setiap orang yang berlatih aikido tentu sangat akrab dengan istilah ukemi. Lebih dan separuh waktu latihan kita habiskan untuk melakukan ukemi. Apa sebenamya manfaat ukemi? Kebanyakan dari kita pada saat menjadi uke dan melakukan ukemi, masih berpikir ukemi hanya sekedar cara menyelamatkan diri, atau cara menghindar dari cidera serius dalam latihan dan tidak lebib dari itu. Tidak sedikit juga yang termotivasi belajar berbagai bentuk ukemi yang “spektakuler” agar teknik yang dilakukan dapat terlihat lebih “dahsyat”. Apakah ini makna dati berlarih ukemi? Jika memang ukemi hanya berfungsi agar teknik aikido terlihat “heboh” seperti di film-film, bukankah sebenarnya kita hanya berlatih sebuah sandiwara bertemakan beladiri?

Namun jika kita dengarkan nasihat orang-orang yang telah lama berlatih aikido bahkan banyak shihan, menekankan pada pentingnya untuk melatih hal yang satu ini. Ada shihan yang mengatakan bahwa berlatih ukemi sama pentingnya dengan berlatih teknik, ada juga yang mengatakan dari ukemi lah kita mengerti cara melakukan teknik yang benar, bahkan ada shihan yang pada saat ditanya bagaimana cara berlatih aikido hingga mencapai level beliau, shihan tersebut menjawab dengan sangat singkat “perbanyak ukemi”. Dari nasihat-nasihat ini kita dapat berasumsi bahwa tentunya makna ukemi lebih dalam dari sekedar cara menyelamatkan diri dengan berguling kedepan atau kebelakang, dan bagi komunitas aiki kenkyukai yang senantiasa ingin menggali lebih dalam tentang esensi berlatlh aikido, wajar jika kita tergerak hatinya untuk mencari tahu tentang makna di balik kegiatan yang paling sering kita lakukan ini.

Sebagai awal, kita kaji ukemi dari segi makna bahasa. Uke berarti menerima (to receive) sedangkan mi berarti tubuh (body). Ukemi dapat diartikan secara sederhana “menerima dengan tubuh” atau “tubuh yang mampu menerima”. Dari arti bahasa diatas, makna ukemi sendiri tidak ada hubungannya dengan kata jatuh, atau menyelamatkan diri dari jatuh, atau semacamnya. Jadi jangan sampai kita terjebak pada pernahaman bahwa belajar ukemi berarti belajar cara jatuh yang benar pada saat kita terlernpar agar kita tidak cidera, karena ukemi sendiri sebenarnya merupakan proses yang terjadi sejak sebelum kita terlempar yaitu sejak kita mengadakan kontak dan terjadi keterikatan dengan nage baik secara fisik maupun secara Kl, ukemi adalah proses bagaimana kita menerima teknik yang diberikan oleh nage, menerima dan berapdatasi dengan baik terhadap teknik dan KI yang diberikan, sehingga hasilnya kita selamat. Ada ujaran, “Ukemi is not learning how to fall but learning how to feel”. Ujaran tentang ukemi ini sederhana namun cukup mewakili makna ukemi yang tepat karena pada intinya pada saat kita melakukan ukemi, yang seharusnya ada di benak kita bukanlah bagaimana cara menjatuhkan diri yang aman melainkan secara tulus menerima rasa yang diberikan nage dari awal hingga akhir dan beradaptasi dengan cara yang terbaik.

Setelah kita mendapatkan pemahaman tentang ukemi bahwa ukemi adalah proses menerima apa yang diberikan oleh nage, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara melatih ukemi dengan benar? Memang tidak ada yang dapat menggantikan jam latihan dalam hal mencapai pemahaman tentang apa yang benar dan apa yang salah, semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk mengasah ukemi kita maka semakin pahamlah kita bagaimana mempraktekkan ukemi yang benar. Namun ada beberapa poin penting yang harus dipahami dan diingat setiap kali berlatih ukemi. Pertama, didalam aikido segala sesuatunya harus didasari oleh prinsip satu kesatuan antara pikiran, hati dan tubuh. Begitu juga dengan ukemi, hampir mustahil melakukan proses ukemi yang benar jika kita hanya berharap tubuh kita melakukan hal tersebut tanpa pikiran dan hati yang juga tulus disiapkan untuk menerima teknik dari nage. Contoh sederhana, jika pada saat kita berpasangan dan menjadi uke ada perasaan takut jatuh, atau takut nage akan menyakiti diri kita, atau ketidak yakinan pada kemampuan kita, yang membuat hati kita menjadi tidak tenang maka kemungkinan besar ukemi yang kita lakukan pun akan berantakan. Contoh lain, pada saat kita menjadi uke, niat atau fokus pikiran kita tidak terpusat pada nage dan apa yang akan kita lakukan, maka kemungkinan besar juga reaksi yang kita rasakan juga tidak maksimal dan pada akhirnya baik nage maupun uke tidak rnendapatkan manfaat latihan yang penuh.

Belajar menerima dimulai dari hati, sebelum kita terlempar, sebelum nage melakukan teknik, kita pada saat menjadi uke haruslah sudah menyiapkan diri, menyatukan hati, pikiran dan tubuh untuk secara tulus memberikan yang terbaik kepada nage dan secara tulus pula menerima apa yang diberikan oleh nage. Didalam latihan, ini disebut tai atari (honest body contact) yang berarti uke dan nage secara tulus memberikan yang terbaik dan masing-masing pihak sehingga aksi reaksi yang terjadi merupakan sesuatu yang natural dan bukan rekayasa sehingga manfaat latihan dapat dirasakan sepenuhnya. Dari tai atari maka uke dapat merasakan, mengerti dan pada akhirnya memahami apa yang disebut proses pengharmonisan (aiki) sehingga pada gilirannya menjadi nage, uke tersebut dapat mereproduksi rasa yang sama dengan pasangan latihannya. Ini makna dari berlatih ukemi didalam latihan.

Poin penting kedua berhubungan erat dengan poin pertama, sekarang kita telah mengetahui bahwa ukemi bukanlah proses fisik semata, melainkan proses yang dilakukan oleh hati, pikiran dan tubuh kita secara simultan. Dan ini tentu saja menjadi proses yang lebih sulit untuk dikuasai. Oleh karena itu, poin penting kedua adalah untuk melatih ukemi tidak hanya pada saat latihan didalam dojo melainkan didalam keseharian kita. Latihan ukemi dapat dilakukan setiap hari, bukan berarti kita berguling di tengah jalan, di kampus atau di kantor, tetapi melatih menyiapkan hati kita untuk siap menerima apapun yang harus kita hadapi.

Reaksi umum manusia terhadap hal yang tidak enak atau bersifat penderitaan adalah penolakan, ini terjadi baik didalam latihan maupun kehidupan sehari-hari. Dan jika kita sudah mengambil sikap menolak terhadap sesuatu yang kita rasakan sebagai sesuatu yang tidak enak atau tidak sesuai keinginan kita, maka kita akan menghadapi hal tersebut dengan penuh ketegangan, stress, yang nantinya dapat berakibat pada penyelesaian masalah yang tidak tepat. Sebagai contoh, pada saat kita latihan didalam dojo, kita tahu pada saat latihan tentu kita harus melakukan ukemi tetapi tetap muncul perasaan kita tidak ikhlas menjadi uke, kemudian muncul penolakan di dalam hati, baik itu didasari rasa takut, rasa malas atau lain-lain. Penolakan didalam hati ini akan berakibat pada kemampuan kita menerima teknik, sehingga berakibat pada ukemi kita yang berantakan, bahkan cidera. Sama halnya dengan yang mungkin kita harus hadapi di keseharian kita, kita tahu berangkat kerja pagi hari kemungkinan terjebak macet sangat besar dan itu kita sikapi sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, sehingga muncul ketidak ikhlasan dalam hati jika harus terkena macet, maka jika kemudian benar-benar terkena macet maka reaksi kita akan serta merta negatif, mulai kesal, marah-marah, sodok sana-sini yang dapat mengakibatkan kita malah lebih terhambat dijalan (terlibat kecelakaan kecil misalnya) atau paling tidak, mood kerja kita sudah rusak karena macet pagi hari itu dan tentunya akan berpengaruh pada performa kerja kita bukan?

Hal-hal tidak enak atau sesuatu yang diluar keinginan kita yang harus kita hadapi sehari-hari ini dapat dijadikan partner latihan ukemi kita diluar dojo, karena sekali lagi, ukemi adalah belajar menerima, belajar menyiapkan diri kita, hati kita, pikiran kita, tubuh kita untuk menerima apapun, baik sesuatu yang enak dan sesuai keinginan kita atau sebaliknya. Karena dengan sikap yang menerima, maka kita dapat lebih tenang dan peka dalam menghadapi dan menilai suatu masalah sehingga pada akhirnya dapat beradaptasi dengan keadaan itu secara proporsional. lnilah manfaat sebenarnya dari ukemi. Selamat Berlatih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shared on wplocker.com